top of page

Serpentine Pavilion, Ajang Pencurahan Imajinasi Arsitek Hebat

  • Dimas Rio Pratama dan Karin Hanasyanila Salma
  • Jan 19, 2022
  • 4 min read

Updated: Feb 24, 2022

Dalam dunia arsitektur, pameran berperan penting untuk mencurahkan segala ekspresi desain dan kemampuan kritis dalam menyelesaikan masalah. Saking pentingnya, pameran kerap kali menjadi batu loncatan bagi karir seorang arsitek. Sebagai contoh, kita dapat menilik sejarah Menara Eiffel dari draf pameran universal di Paris yang sebelumnya mengalami penolakan di Barcelona. Selain meningkatkan citra kota Paris, pembangunan itu juga meningkatkan karir Stephen Sauvestre selaku arsiteknya.


Pavilion Serpentine mungkin adalah salah satu pameran arsitektur yang sudah cukup familiar di telinga kita. Program tahunan itu merupakan bagian dari Galeri Serpentine, pameran galeri seni temporal yang berada di Kensington Garden dan Hyde Park, London. Tiap tahunnya, seorang arsitek dipilih oleh Galeri Serpentine untuk merancang paviliun seluas 300 meter persegi di Kensington Garden ataupun di Hyde Park. Semenjak 2017, pemilihan arsitek sendiri dilakukan melalui proses seleksi terhadap desain dari berbagai arsitek yang diundang. Selain untuk memperkenalkan arsitek-arsitek pilihan pada lingkup yang lebih luas, program Pavilion Serpentine juga bertujuan mewadahi eksperimentasi desain sehingga memperluas batas-batas arsitektur kontemporer.


Gambar 1. Serpentine Gallery

(Sumber : inexhibit.com)


Pavilion Serpentine merupakan program yang cukup “baru” dari Galeri Serpentine karena baru dimulai sejak tahun 2000, berbeda dengan Galeri Serpentine yang telah beroperasi sejak 1970. Meskipun demikian, Pavilion Serpentine berhasil mengundang 1,2 juta pengunjung tiap tahunnya. Para pengunjung tidak dikenakan biaya apapun untuk dapat menikmati keindahan luar biasa dari Pavilion Serpentine. Kesempatan tersebut menjadi semakin fantastis bila mengingat bahwa beberapa Pavilion Serpentine merupakan karya peraih penghargaan Pritzker seperti Zaha Hadid dan Frank Gehry. Untuk menutupi biaya operasionalnya, Galeri Serpentine memanfaatkan dana dari investasi, donasi, dan dukungan perusahaan.


Meski pada dasarnya Pavilion Serpentine ditujukan sebagai kafe dan tempat pertemuan di siang hari ataupun forum berkegiatan dan hiburan di malam hari, tipologi fungsi dan tren bentuk benar-benar dibebaskan pada kreativitas sang arsitek. Sebagai contoh, Sou Fujimoto mendesain struktur yang seluruhnya terbuat dari rangka baja pipa untuk Pavilion Serpentine 2013. Pavilion tersebut pun terkesan seperti bangunan rapuh, padahal hampir di setiap tempat dapat dijadikan tempat duduk. Alih-alih mengikuti tren bentuk eksperimental seperti Sou Fujimoto, Francis Kere menciptakan desain yang natural dan erat dengan keterbukaan untuk Pavilion Serpentine 2017. Desain itu terinspirasi dari negara asalnya yang sangat menghargai pepohonan sebagai tempat pertemuan dan aktivitas sosial.


Gambar 2. Serpentine Pavilion 2013 Karya Sou Fujimoto

(Sumber : archdaily.com)


Gambar 3. Serpentine Pavilion 2017 Karya Francis Kere

(Sumber : archdaily.com)


Tidak banyak yang tahu bahwa Pavilion Serpentine tidak hanya dibangun di Kensington Garden dan Hyden Park. Pada 2018, Galeri Serpentine bekerja sama dengan WF Central dalam membangun paviliun di Beijing. Didesain oleh JIAKUN Architects dari Cina, paviliun tersebut terinspirasi oleh Konfusianisme. Hal tersebut dapat dilihat dari balok baja kantilever lengkung serta kabel yang merepresentasikan pemanah dalam perburuan tradisional Junzi.


Gambar 4. Serpentine Pavilion Karya JIAKUN Architects

(Sumber : serpentinegalleries.org)


Kontroversi

Seiring meningkatnya reputasi Pavilion Serpentine, terdapat beberapa kejadian yang juga menarik perhatian publik. Salah satunya adalah tidak terbangunnya paviliun pada tahun 2004 karena konsep rancangan yang terlalu menantang. MVRDV, sang arsitek yang berbasis di Belanda, merancang bangunan seperti gunung yang menaungi seluruh galeri. Proyek tersebut pun akhirnya tidak direalisasikan karena dianggap sangat besar dan tidak efisien. Oleh karena itu, tidak ada paviliun yang dipamerkan pada tahun itu.


Selama perhelatannya yang sudah lebih dari dua puluh tahun, Pavilion Serpentine juga tidak luput dari kontroversi. Salah satu kontroversi yang terkenal adalah ketika Junya Ishigami, salah satu arsitek muda ternama Jepang, tidak menggaji para pekerja magang yang membantu bironya mendesain Pavilion Serpentine 2019. Menurut salah satu pekerja magang tersebut, mereka bekerja dari jam 11 siang hingga tengah malam untuk enam hari seminggu, dan selama dua hingga tiga bulan. Selain itu, mereka diharuskan menyediakan peralatan kerja masing-masing.


Gambar 5. Serpentine Pavilion 2019 Karya Junya Ishigami

(Sumber : archdaily.com)


Kasus Ishigami di saat yang sama juga memantik diskusi lama mengenai kewajiban mengupah mahasiswa magang. Enam tahun sebelumnya, Sou Fujimoto–arsitek Pavilion Serpentine 2013 sekaligus sesama arsitek Jepang–menyebut bahwa sistem magang tanpa upah merupakan tradisi yang sudah cukup lumrah di Jepang. Ia sendiri merasa bahwa sistem itu menghadirkan peluang yang baik bagi pemberi kerja maupun mahasiswa magang. Namun, sesuai dengan regulasi RIBA (Royal Institute of British Architects) yang mewajibkan pemberian upah atas setiap kerja praktik mahasiswa, Galeri Serpentine menyatakan bahwa mereka hanya mendukung posisi berbayar pada semua proyek dan komisinya.


Pavilion Serpentine kembali mengundang kontroversi akhir-akhir ini. Sempat tertunda pada 2020 karena pandemi, Pavilion Serpentine 2021 kini didesain oleh studio Counterspace yang berbasis di Johannesburg, Afrika Selatan. Konstruksi paviliun tersebut menuai kritik akibat penggunaan 95 meter kubik beton untuk bagian dasarnya, yang dinilai berlebihan dan tidak ramah lingkungan. Padahal, paviliun berkonsep pop-up ini mulanya digaungkan sebagai bangunan dengan kombinasi pendekatan teknologi rendah dan tinggi untuk keberlanjutan. Hal ini juga menjadi pukulan tersendiri bagi program Pavilion Serpentine yang sebelumnya telah dipuji karena menekankan prinsip keberlanjutan pada penggunaan bahan dan teknik pembangunan.


Gambar 6. Serpentine Pavilion 2021 Karya Studio Counterspace

(Sumber : archdaily.com)


Terlepas dari segala kontroversinya, program Pavilion Serpentine masih terus berlanjut. Dilansir dari Architects' Journal (2021), Pavilion Serpentine 2022 akan didesain oleh seniman Amerika Theaster Gates. Komisi tersebut menjadikan Gates desainer non-arsitek pertama yang mendesain Pavilion Serpentine. Meski demikian, Gates memiliki latar belakang dalam bidang perencanaan dan pelestarian kota, serta banyak karyanya mengacu pada isu-isu ruang dan struktur perkotaan. Dalam rangka Chicago Architecture Biennial 2015, Gates juga pernah menyulap gedung bank terlantar di lingkungan berpenghasilan rendah Chicago menjadi sarana budaya dengan galeri, ruang acara, dan perpustakaan. Apakah kamu menantikan karya Gates tahun ini?


REFERENSI


Alter, L. (2021, 10 Juni). Serpentine Pavilion Is a Concrete Conundrum. Treehugger.com. Terakhir diakses pada 18 Januari 2022 di https://www.treehugger.com/serpentine-pavilion-is-a-concrete-conundrum-5188438.


ArtReview. (2021, Mei 5). The mighty concrete pump has arrived!’ Serpentine pavilion faces backlash over environmental impact. ArtReview.com. Terakhir diakses pada 18 Januari 2022 di https://artreview.com/serpentine-pavilion-faces-backlash-over-concrete/.


Carlson, C. (2021, Mei 19). Theaster Gates named 2022 Serpentine Pavilion designer. Dezeen. Terakhir diakses pada 18 Januari 2022 di https://www.dezeen.com/2021/05/19/theaster-gates-2022-serpentine-pavilion/.


D51gn. (2021, Mei 5). What’s the environmental controversy behind this year’s Serpentine Pavilion by Counterspace studio? De51gn.com. Terakhir diakses pada 18 Januari 2022 di https://de51gn.com/whats-the-environmental-controversy-behind-this-years-serpentine-pavilion-by-counterspace-studio/



Informasi mengenai Serpentine Pavilion didapat melalui https://www.serpentinegalleries.org/about/serpentine-pavilion/\


Jonze, T. (2019, Maret 22). Row over use of unpaid interns by Serpentine pavilion architect.The Guardian. Terakhir diakses pada 18 Januari 2022 di https://www.theguardian.com/artanddesign/2019/mar/22/row-unpaid-interns-serpentine-london-gallery-pavilion-architect-project.


Stott, R. (2018, Juni 1). First Serpentine Pavilion Outside UK Opens with Design by JIAKUN Architects. Archdaily. Terakhir diakses pada 18 Januari 2022 di https://www.archdaily.com/895619/first-serpentine-pavilion-outside-uk-opens-with-design-by-jiakun-architects.

Comments


© 2021 oleh IMA-G 2021

  • drive-icon-10523
  • Black Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon
bottom of page