top of page

Emosi Ruang Jewish Museum Libeskind

  • Kevin Mochamad Oktafarel, Annissa Zhafira Febriyanti.
  • Oct 13, 2021
  • 7 min read

Karya arsitektur bukanlah hanya seputar bentuk indah ataupun bangunan fungsional, tetapi juga mengenai pesan dan narasi. Narasi sebuah rancangan arsitektur dapat memengaruhi kebutuhan fungsi ruang dan ambience yang tercipta. Narasi itu juga dapat diturunkan dari pengalaman ruang yang diinginkan seorang arsitek agar pengunjung dapat merasakan tema, suasana atau ambience tertentu.


Pada abad ke-20 terjadi perubahan persepsi terhadap arsitektur: “architecture is an abstraction, nothing with an emotion, it’s form follow function. Arsitektur dipandang sebagai ruang yang netral dan cenderung hanya untuk memuaskan pengguna dari segi fungsi (Libeskind, 2016). Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berhadapan langsung dengan berbagai jenis emosi (emotions) seperti perasaan suka, benci, tidak nyaman, dan takut. Emosi merupakan sesuatu yang kompleks dan membawa pandangan kita ke dalam dimensi yang berbeda. Dengan emosi, seseorang bisa mengekspresikan diri terhadap sesuatu, termasuk karya arsitektur.


Sebagaimana Bernard Tschumi mencetuskan “form follows fiction” – bahwa arsitektur harus menghadirkan cerita/narasi ke dalam proses desainnya – Daniel Libeskind juga berpandangan serupa: arsitektur adalah media yang menyampaikan sebuah cerita. Cerita sendiri tercipta dari sekumpulan emosi yang membuat bangunan mampu menyampaikan sebuah narasi atau makna yang lebih kuat.


Libeskind, yang dahulu sempat menjadi musisi sebelum berkiprah sebagai arsitek, memang terkenal dengan ide-ide desainnya yang berfokus pada bagaimana bangunan dirasakan ketimbang dilihat. Ia sering membandingkan arsitektur dengan musik, yang sama-sama merupakan karya dengan sifat teknis dan teoritisnamun mampu “menyentuh” jiwa manusia.


There is no story without emotion. I believe architecture is a storytelling profession. It tells a story. A story without emotion is just a report in the Wall Street Journal. But a story with emotion, that's what makes us human” (Libeskind, 2016).


The Jewish Museum

Reputasi Libeskind sebagai arsitek pertama kali melejit pada 1989. Saat itu, ia memenangkan kompetisi desain bangunan tambahan untuk Museum Berlin, yang direncanakanakan menampung koleksi terkait sejarah Yahudi. Meski ditentang selama satu dekade, bangunan itu akhirnya selesai pada 1999 dan diresmikan sebagai museum pada 2001. Libeskind, yang kehilangan sebagian besar keluarganya dalam Holocaust, berusaha menyampaikan beberapa tingkat makna lewat rancangannya. Museum itu, yang dunia kenal sebagai The Jewish Museum, merupakan bukti persepsi Libeskind terhadap arsitektur yang harus mampu menyampaikan narasi emosional melalui ruang arsitektural.


Gambar 1. Jewish Museum Berlin

(Sumber: Bianchini, 2019)


Rancangan Libeskind terpilih karena implementasinya yang cukup radikal dan ekspresif dalam merepresentasikan kehidupan orang Yahudi sebelum, selama, dan setelah peristiwa Holocaust. Rancangan ekspansi dibuat dengan menenkankan tiga konsep. Pertama adalah ketidakmampuan untuk memahami sejarah kota Berlin yang kompleks tanpa mengakui kontribusi orang Yahudi terhadap negara secara kultural, ekonomi, dan intelektual. Menurut Libeskind, masyarakat saat itu skeptis dengan andil orang-orang Yahudi dalam sejarah Kota Berlin sehingga sulit menerima keberadaan museum ini. Kedua adalah integrasi signifikansi dari Holocaust secara fisik maupun spiritual ke Berlin, dan terakhir adalah mengakui kekosongan kehidupan orang Yahudi di Kota Berlin.


Berbeda dengan bangunan asli Jewish Museum yang berlanggam barok dan berdinding bata, bangunan ekspansi rancangan Libeskind justru bergaya dekonstruktif dengan dominasi material fasad titanium-seng. Kontras antara kedua bangunan ini seolah memberi kesan bahwa keduanya merupakan dua entitas yang berbeda dan tidak saling berhubungan. Massa bangunan Libeskind berbentuk zig-zag dengan sirkulasi yang membentuk sekuens pengalaman ruang bagi pengunjung museum. Bangunan terdiri dari tiga lantai dan satu lantai basemen yang juga berfungsi sebagai ruang ekshibisi.


Gambar 2. Konsep Massing

(Sumber: Shafran, 2013)



Entrance and the Three Axes

Tidak ada akses masuk secara langsung dari bangunan Libeskind sendiri. Untuk memasuki bangunan Libeskind, pengunjung harus melewati basemen dari bangunan lama. Interior dari tangga menuju basemen ekstensi museum jauh lebih intens jika dibandingkan dengan interior bangunan lama. Lantai basemen mewadahi fungsi ruang ekshibisi, dengan sirkulasi yang terbagi menjadi tiga aksis berbeda dan masing-masing mengarah ke tiga ruang ekshibisi yang menggambarkan kejadian yang dialami orang Yahudi: pengasingan (exile), pembantaian (holocaust), dan keberlanjutan (continuity).


Aksis exile dan holocaust mengarahkan pengunjung ke ruang ekshibisi dengan tema “titik akhir kehidupan”. Koridor yang panjang dengan lantai yang cenderung menurun memberikan kesan hening yang mengintimidasi. Pada sirkulasi bawah tanah ini juga terdapat beberapa titik buntu yang Libeskind rancang untuk memberikan beban emosional dan filosofis bagi pengunjung, sebagai gambaran perasaan orang Yahudi pada masa Holocaust. Sementara itu, aksis continuity akan mengarahkan pengunjung ke ruang ekshibisi di lantai dasar, satu, dan dua yang bertema “titik pelarian”, sebagai representasi usaha Kota Berlin untuk bergerak maju dari masa lalunya yang kelam.


Gambar 3. Sirkulasi Basement

(Sumber: Shafran, 2013)


Holocaust Tower

Aksis holocaust akan membawa pengunjung menuju Holocaust Tower, bagian massa bangunan yang terisolasi dan hanya memiliki satu akses dari bangunan Libeskind. Menara ini merepresentasikan korban jiwa dari pembantaian Holocaust. Holocaust Tower hanya berupa struktur beton yang kosong, tertutup, dan tanpa pemanas ruangan. Satu-satunya pencahayaan berupa cahaya matahari yang menembus menara melalui celah sempit. Dinding beton yang tebal serta void yang cukup tinggi meredam suara dari luar bangunan. Konsep puitis Libeskind terlihat hingga ke detail karyanya. Jika dilihat pada foto interior di bawah ini, representasi ruh para korban dapat dirasakan melalui noda samar pada dinding dan lantai ruangan yang muncul dari jejak kaki pengunjung museum.


Gambar 4. Holocaust Tower

(Sumber: Ziehe, 2020)


The Garden of Exile

Garden of Exile merupakan ujung dari aksis exile yang berlokasi di luar bangunan museum. Area ini merupakan representasi “kebebasan palsu” yang dialami oleh orang Yahudi yang lari dari Jerman. Taman ini terdiri dari 49 buah pilar tinggi yang ditumbuhi dengan tanaman Rose arbor, simbol dari harapan dan rekonsiliasi. Ketika sampai di sini, pengunjung akan merasakan kebebasan karena sudah berhasil keluar dari area bawah tanah museum, meski sebenarnya taman ini merupakan jalan buntu.


Gambar 5. Garden of Exile

(Sumber: Ziehe, 2020)


The Stair of Continuity + Exhibition Space

Berbeda dengan dua aksis sebelumnya yang mengarah ke ruang ekshibisi gelap dan tidak nyaman, aksis continuity mengarah ke ruang ekshibisi di lantai atas museum yang cenderung terang dan nyaman - menggambarkan harapan menuju kehidupan lebih baik. Stair of Continuity merupakan area sirkulasi berupa tangga yang menghubungkan ruang ekshibisi bawah tanah dengan ruang ekshibisi di lantai atas. Berbeda dengan area sirkulasi sebelumnya, Stair of Continuity diterangi pencahayaan alami yang masuk melalui kaca jendela dan terhubung secara visual dengan pemandangan Kota Berlin.


Dari bawah, tangga ini terlihat biasa saja. Namun, perspektif ruang mulai berubah ketika menaiki tangga. Pada void tangga, terdapat balok-balok beton yang tersusun secara acak dan akan terlihat satu per satu ketika sedang menaiki tangga. Namun jika pengunjung melihat kembali tangga yang ia lewati dari atas, balok-balok beton tersebut memberikan kesan seolah ruang di belakang “runtuh” ketika mereka melarikan diri ke arah cahaya di atas.


Gambar 6. Stair of Continuity

(Sumber: Bruns, 2020)


Lantai satu dan dua difungsikan sebagai ruang ekshibisi untuk koleksi museum dan karya seni mengenai sejarah Yahudi di Jerman, sementara lantai tiga difungsikan sebagai kantor administrasi. Ruang ekshibisi ini mendapat pencahayaan yang cukup baik dari bukaan berbentuk irisan. Pada lantai kantor, terdapat jendela yang cukup besar untuk kebutuhan fungsional karyawan.


Gambar 7. Ruang Eksibisi

(Sumber: Bruns, 2020)


The Voids

Libeskind merancang beberapa void di sepanjang massa bangunan untuk menggambarkan kekosongan fisik yang diakibatkan oleh pengasingan dan pembantaian orang Yahudi. Void-void ini terbentang dari atap hingga basemen. Material beton ekspos, void yang tinggi, serta pencahayaan dari skylight yang kecil menambah kesan dingin, terperangkap, dan menyiksa bagi pengunjung. Salah satu void bernama Memory Void, berisikan instalasi Shalechet oleh seniman Israel, Menashe Kadishman. Instalasi ini berupa ribuan keramik berbentuk wajah manusia yang disebar menutupi lantai sehingga memaksa pengunjung untuk berjalan di atas keramik-keramik tersebut. Suara denting dari keramik akan bergema pada void dan menghasilkan sensasi yang menakutkan.


Gambar 8. Memory Void

(Sumber: Ziehe, 2020)


Arsitektur Yang Menjadi Karya Seni Itu Sendiri

Faktor terpenting yang mendasari perancangan Jewish Museum adalah hubungan antara ruang dengan manusia. Secara fisik, ekstensi museum ini merupakan serangkaian sekuens yang memainkan skala ruang, pencahayaan, warna, dan material untuk menghasilkan nuansa kenyamanan tertentu. Sebagai contoh, koridor pada lantai basemen dibuat sesuai dengan skala manusia, tapi dengan temperatur ruangan rendah dan cahaya lampu yang agak terlalu terang serta dinding putih yang reflektif sehingga menciptakan ketidaknyamanan fisik. Persepsi ruang semacam itu membuat pengunjung secara emosional merasa seakan tidak disambut, terintimidasi, dan tertekan.


Sekuens spasial Jewish Museum juga dirancang agar menciptakan kembali emosi untuk meningkatkan pemahaman sejarah. Tangga menuju basemen menimbulkan ketakutan; koridor yang panjang menimbulkan kebingungan; ruang yang tertutup dan sempit menimbulkan rasa terisolasi; dinding miring dan sudut tajam mengekspresikan kemarahan, dan pencahayaan mengekspresikan harapan. Emosi tersebut dipancing untuk meningkatkan empati pengunjung terhadap korban Holocaust sehingga dapat lebih memahami sejarah Yahudi di Kota Berlin.



Gambar 9. Sekuens Fisik dan Emosional Museum

(Sumber: Shafran, 2013)


Secara garis besar, Jewish Museum merupakan ekshibisi perjalanan emosional dari pengunjung melalui perancangan ruang arsitektural. Nampak jelas bahwa Libeskind tidak merancang museum untuk sekadar mewadahi ekshibisi objek pameran di dalamnya, melainkan justru untuk mengekshibisikan bangunan itu sendiri. Sedikit berbeda dengan Tschumi dan dogma “Form Follows Fiction” untuk menengahi fungsionalitas dan pengalaman ruang, Jewish Museum justru menjadikan pengalaman ruang sebagai fungsi utamanya. Oleh karena itu, suasana yang dihasilkan serta respons manusia terhadap ruang menjadi persoalan utama dalam perancangan.


Jewish Museum memunculkan sudut pandang baru dalam melihat arsitektur, yaitu sebagai sebuah seni atau perwujudan emosi manusia, dan bukan hanya sebuah wadah pemenuhan kebutuhan teknis. Arsitektur seharusnya mampu berkomunikasi dengan pengguna secara emosional. Harfiahnya, Jewish Museum hanyalah serangkaian ruangan kosong. Tidak seperti desain pada umumnya yang ditujukan untuk memenuhi suatu kebutuhan, arsitektur Libeskind cenderung lebih mirip seperti seni atau musik yang bertujuan untuk dinikmati dan dirasakan. Sebagaimana karya seni, ruang arsitektural Jewish Museum diolah untuk diinterpretasikan oleh pengguna mengenai emosi yang diciptakannya. Dengan kata lain, interpretasi atau respons pengguna terhadap ruang menjadi “objek” yang diekshibisikan.


Hal yang sering dilupakan oleh para perancang ataupun pengguna mengenai karya arsitektur adalah bagaimana arsitektur bukan hanya berbicara mengenai fungsionalitas, tetapi juga mengenai perilaku pengguna dalam merespons bangunan melalui emosi yang muncul dalam ruang. Bagaimanapun juga, manusia sehari-hari berhadapan dengan emosi dan berbagai perasaan ketika menjalani aktivitasnya, termasuk ketika berkegiatan dalam sebuah bangunan. Oleh karena itu, pendekatan perancangan ruang arsitektural menggunakan narasi emosional dapat digunakan, terutama pada bangunan dengan nilai atau narasi tertentu yang ingin disampaikan kepada para penggunanya.


REFERENSI


Andenmatten, Stephen. (2012) Case Study - Jewish Museum Berlin by Daniel Libeskind. Diakses 2 Mei 2021 di situs https://issuu.com/stephenandenmatten/docs/casestudy

Bruno, Giuliana. (2002). Atlas of Emotion. Verso: New York.


Libeskind, Daniel. (2016). Emotion in Architecture. Diakses pada 15 April 2021 melalui situs https://www.youtube.com/watch?v=j64YQdrE5CU


Libeskind, Daniel. (2012). Architecture is a Language: Daniel Libeskind at TEDxDUBLIN. Diakses pada 20 April 2021 melalui situs https://www.youtube.com/watch?v=yEkDosanxGk

Pavka, Evan. (2010). AD Classics: Jewish Museum, Berlin / Studio Libeskind. Archdaily. diakses pada 30 April 2021 melalui situs https://www.archdaily.com


Shafran, Margot. (2013). Jewish Museum Berlin Analysis: ‘Beyond The Lines’. Diakses 2 Mei 2021 di situs https://issuu.com/margotshafran/docs/jewish_museum_berlin_analysis


Sugumar, Srinidhi. (___). Understanding the Philosophy of Daniel Libeskind. Diakses 2 Mei 2021 di situs https://www.re-thinkingthefuture.com/know-your-architects/a1193-understanding-the-philosophy-of-daniel-libeskind/

Comments


© 2021 oleh IMA-G 2021

  • drive-icon-10523
  • Black Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon
bottom of page