top of page

ARSITEKTUR MODULAR: SOLUSI PERMASALAHAN PEMBANGUNAN AKIBAT KONSUMERISME DAN PERKEMBANGAN BUDAYA

  • Dawam Prabowo Restuaji
  • Jan 12, 2022
  • 5 min read

Pendahuluan

Perkembangan zaman dan globalisasi berpengaruh pada kehidupan, termasuk budaya masyarakat dan unsur-unsur di dalamnya. Sebagai elemen sosial, masyarakat memiliki kebutuhan dan perilaku khasnya masing-masing yang juga senantiasa mengalami perubahan. Perubahan ini dapat dipengaruhi berbagai aspek seperti perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, hingga jenis kebutuhan. Hal tersebut, dipadukan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam, berdampak pada meningkatnya budaya konsumtif pada masa kini. Fenomena tersebut menimbulkan berbagai permasalahan dalam berbagai disiplin keilmuan, termasuk desain dan arsitektur.


Sebagian dari kita mungkin sudah mengenal konsep arsitektur modular. Konsep tersebut merujuk pada proses pembangunan menggunakan modul-modul tertentu yang dapat dibongkar-pasang, ditambah, dan dikurangi sehingga memiliki nilai praktis dan fleksibel. Ciri khas lainnya adalah proses produksi modul atau komponen dilakukan di luar lokasi kontruksi sehingga perlu dilakukan pemasangan pada lokasi konstruksi sebenarnya dan transportasi modul dari lokasi produksi ke lokasi konstruksi. Dengan berbagai karakteristik inilah arsitektur modular dinilai dapat menjadi salah satu solusi dari permasalahan pembangunan akibat budaya konsumtif dalam masyarakat dan perkembangan budaya di era globalisasi. Secara spesifik, permasalahan yang dimaksud berkaitan dengan bagaimana masyarakat masa kini membutuhkan ruang arsitektur untuk mengakomodasi perubahan dan beragamnya kebutuhan. Kita dapat mempelajari secara lebih lanjut contoh penerapan arsitektur modular dalam dua buah preseden desain, yaitu Full Steam Ahead dan A Thousand Yards.


Full Steam Ahead


Gambar 1, Ilustrasi desainkeseluruhan Full Steam Ahead (Sumber:architecturecompetitions.com).


Full Steam Ahead karya Sebastian Labbe dan Nicolas Delucinge adalah hunian co-living yang berlokasi di beberapa titik sepanjang La Petite Ceinture, sebuah jaringan rel kereta api yang nonaktif di Kota Paris. Mengusung tagar “La Petite Ceinture: Towards a Habitable Railway”, proyek ini mencoba mengatasi permasalahan pemukiman Paris melalui pembuatan social housing dengan konstruksi modular.


Desain terdiri dari dua bagian: lantai dasar sebagai ruang komunal dan lantai hunian. Fasilitas pada lantai dasar meliputi parkir sepeda, ruang workshop, dapur bersama, hingga ruang olahraga yang saling terhubung oleh teras-teras terbuka. Teras tersebut pun terhubung secara langsung dengan jalur kereta api yang dialihfungsikan sebagai ruang terbuka penghuni. Pada tiap lantainya terdapat sekitar delapan unit hunian dengan luas antara 33 m2 hingga 148,5 m2 untuk tipe unit dua lantai.


Gambar 2, Titik persebaran dan Konsep Lantai Dasar Full Steam Ahead (Sumber: architecturecompetitions.com).


Lokasi konstruksi yang terletak di sepanjang jalur kereta api menjadi pertimbangan utama pemilihan metode konstruksi modular. Seluruh ruang yang ada merupakan bentuk modul prefabrikasi yang dapat diangkut kereta api sehingga konstruksi mudah dan cepat. Konsep modular semakin diperkuat dengan cara penyusunan setiap unit apartemen yang memungkinkan ekspansi secara vertikal maupun horizontal. Full Steam Ahead juga mengedepankan estetika industrial dengan penggunaan material baja dan perforated metal sebagai fasadnya agar selaras dengan konteks lingkungan sekitar. Gabungan seluruh konsep tersebut menghasilkan hunian co-living yang matang dan dapat menjadi alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan permukiman akibat kepadatan penduduk kota Paris.


Gambar3,KonsepLantaiHunianFullSteamAhead(Sumber:architecturecompetitions.com).


A Thousand Yards

Penerapan konsep modular lain dapat ditemukan pada desain A Thousand Yards, sebuah pavilliun di Beijing, China. Paviliun tersebut terbagi menjadi lima bagian dengan fungsi berbeda: restoran, ruang serba guna, ruang ekshibisi, greenhouse, dan sebuah institusi pendidikan dengan laboratorium. Kelima zona tersebut mengelilingi sebuah ruang terbuka berupa courtyard. Dengan mengedepankan aspek fleksibilitas, kebaruan, dan partisipasi pengunjung, paviliun ini mampu berperan sebagai ruang aktivitas bagi penduduk Beijing di tengah kesibukan mereka.


Gambar 4, Ilustrasi desain keseluruhan A Thousand Yards (Sumber: architizer.com)


Lokasi konstruksi yang berada di perbatasan antara kota dan area hutan menjadi alasan utama diterapkannya konsep modular. Lokasi ini nantinya akan diubah menjadi area permukiman baru sehingga konsep modular yang dapat dibongkar pasang, tambah, dan kurangi menjadi cocok untuk diterapkan. Berbeda dengan Full Steam Ahead yang menggunakan elemen prefabrikasi berupa modul ruang, A Thousand Yards terdiri dari komponen prefabrikasi yang disusun langsung di lokasi konstruksi. Sebagai acuan penyusunan, ditetapkan sebuah modul homogen berbentuk persegi berukuran 8m x 8m yang terinspirasi dari satuan luas Cina atau disebut ‘li’. Setelah dilakukan penyusunan komponen prefabrikasi, setiap unit modul dapat disusun secara horizontal maupun vertikal sesuai dengan kebutuhan masing-masing.


Penggunaan komponen prefabrikasi sebagai penyusun unit modul memberikan fleksibilitas maksimal terhadap tatanan ruang. Penggabungan beberapa unit secara vertikal maupun horizontal dapat menghasilkan ruang dengan kemungkinan luas yang variatif sehingga fungsi yang dinaunginya pun beragam. Bentuk dasar persegi juga memudahkannya untuk beralih fungsi ketika dibutuhkan.


Gambar 5, Konsep modularA Thousand Yards (Sumber: architizer.com).


Penataan unit modul berdasarkan grid juga menciptakan ruang-ruang aktivitas yang kaya dan beragam. Tidak semua petak grid dimanfaatkan sebagai ruang tertutup. Beberapa di antaranya dapat dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas pengunjung, seperti kolam untuk memancing, menonton pertunjukkan, bermain tenis meja, hingga bermain skateboard. Perpaduan konsep tersebut dengan orientasi paviliun ke courtyarddi tengah semakin memperkuat kemampuan A Thousand Yards sebagai penyedia ruang kegiatan yang mumpuni.


A Thousand Yards berhasil memenuhi kebutuhan manusia serta mampu mengakomodasi perubahan kebutuhan manusia dengan sangat baik melalui penggunaan sistem modular yang efektif dan efisien sehingga perubahan terhadap susunan dan bentuk modul prefabrikasi dapat diubah dengan mudah.


Gambar 6, Jenis aktivitas yang dapat diakomodasi (Sumber: architizer.com).


Gambar 7, Kemungkinanpenyusunan unit modul (Sumber: architizer.com).


Kelebihan Arsitektur Modular

Singkat cerita, arsitektur modular menawarkan berbagai kelebihan. Namun, salah satu yang terutama adalah fleksibilitasnya yang tinggi. Dengan sistem modular, sebuah bangunan dapat menyesuaikan kebutuhan setiap orang secara tepat. Hal ini berhubungan dengan kecenderungan masyarakat masa kini untuk bersikap konsumtif dan memiliki beragam kebutuhan. Selain itu, sistem modular memungkinkan penciptaan fungsi ruang yang beragam meski hanya menggunakan satu modul. Hal ini dapat dicapai dengan menggabungkan beberapa modul menjadi sebuah kesatuan, baik secara vertikal maupun horizontal. Terakhir, proses bongkar pasang menjadi mudah karena seluruh komponen telah diprefabrikasi terlebih dahulu sehingga hanya perlu disusun pada lahan konstruksi.


Sistem modular juga dinilai praktis karena memungkinkan sebagian besar proses konstruksi untuk dikerjakan secara off-site —dengan produksi komponen atau modul prefabrikasi di pabrik manufaktur sehingga mengurangi kompleksitas konstruksi di lapangan. Baik Full Steam Ahead maupun A Thousand Yards memanfaatkan kelebihan tersebut untuk menciptakan bangunan berkompleksitas tinggi secara cepat untuk memenuhi kebutuhan yang sama cepatnya. Kepraktisan sistem modular juga terlihat melalui kemudahannya mencapai daerah-daerah terpencil sehingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi konstruksi yang dilakukan. Dengan sifatnya yang terukur, komponen atau modul bangunan dapat menyesuaikan dimensi moda transportasi yang digunakan.


Meski memiliki banyak kelebihan, nampaknya penerapan arsitektur modular belum menunjukkan terlalu banyak variasi dari segi estetika visual maupun bentuk modul yang digunakan. Baik Full Steam Ahead maupun A Thousand Yards menggunakan bentuk segi empat sebagai bentuk dasar modul. Bentuk-bentuk geometris memang sedang banyak digemari karena terlihat modern dan selaras dengan konteks urban yang banyak disukai masyarakat. Namun, hal tersebut belum dapat membuktikan keserbagunaan penerapan sistem modular dalam arsitektur dari segi visual dan bentuk. Oleh karena itu, eksplorasi lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan kemungkinan visual dan bentuk elemen modular tanpa mengorbankan kualitas produksi. Terlepas dari itu, arsitektur modular dinilai efektif dan efisien dalam mengatasi permasalahan pembangunan yang disebabkan oleh konsumerisme dan perkembangan budaya dalam masyarakat.


Daftar Pustaka

  1. Bhabha, H.K. (1994). The Location of Culture. London& New York: Routledge.

  2. Kotler, P. (2005). Manajemen Pemasaranedisi 11 jilid 1. Jakarta:Indeks.

  3. Labbe, S. & Delucinge, N. (2019). Full Steam Ahead (La Petite Ceinture: Towards a Habitable Railway). <https://architecturecompetitions.com/parischallenge> (diakses pada 19 Mei 2021).

  4. Lesmana, K.D. (2019). Budaya Populer, Ketika Popularitas Menjadi Konstruk yang Didewakan.<https://www.kompasiana.com/kikilesmana16/5dda8fc1d541df6bc45e2f23/budaya- populer-ketika-popularitas-menjadi-konstruk-yang-didewakan> (diakses 19 Mei 2021).

  5. Mukerji, C., & Schudson, M. (1991). Rethinking Popular Culture ContemporaryPerspectives in Cultural Studies.California: Univ of California Press.

  6. Pieterse, J.N. (2001). Hybridity, So What? The Anti-hybridity Backlash and The Riddles of Recognition. JurnalTheory, Culture, and Society, Vol 18 (2-3).

  7. Precht, C. (2017).A Thousand Yards.<https://www.behance.net/gallery/47359603/A- Thousand-Yards> (diakses 19 Mei 2021).

  8. Redaksi Design Boom. (2017). Penda's Modular ThousandYards Pavilion to Headline 2019 Beijing Expo. <https://www.designboom.com/architecture/penda-a-thousand- yards-pavilion-beijing-china-02-07-2017/> (diakses 19 Mei 2021).

  9. Sachari, R.E. 1978. Adolesence. New York: John Wiley &Sons.

  10. Sembiring, J. (2008). Budaya Konsumerisme. <http://indowarta.com/> (diakses 19 Mei 2021).

  11. Setiawan, I. (2016). Hibriditas Budaya dalam Lintasan Perspektif.<https://matatimoer.or.id/wp-content/uploads/2016/12/Hibriditas-budaya-dalam- lintasan-perspektif.pdf> (diakses 19 Mei 2021).

  12. Smith, R.E. (2010). Prefab Architecture: A Guide to Modular Design and Construction. New Jersey: John Wiley & Sons Inc.

  13. Tatum, C. (1987). Improving Constructibility During Conceptual Planning. Journal of Construction Engineering and Management, vol.113, No.2, 191-207.

Comments


© 2021 oleh IMA-G 2021

  • drive-icon-10523
  • Black Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon
bottom of page